Posts

Showing posts with the label cerita lucu

Mahasiswa Absurd (Chapter 6)

Sesampainya di depan kampus swasta nan mentereng itu, Putri mengajak gue sejenak masuk ke dalam sebuah kamar sempit ber-AC yang sepertinya tidak asing buat gue. Sebuah ruangan penuh dengan harapan masa depan, dengan visi kesejahteraan bangsa. Kamar yang berisi sebuah mesin sedekah yang diciptakan oleh badan usaha yang menyatakan diri bernama Bank. Ya, Putri ngajak gue ke ATM mas bro! Sebuah kegiatan rutin yang dilakukan oleh mahasiswa rantau di tanggal tua, dimana uang dalam dompet tiada tersisa, dan semua intelektual muda seakan-akan menunjukan tindak-tanduk kriminal yang mencurigakan. “Mau cek saldo dulu Ki, biasa.” Ucap Putri. “Oke, siap bos.” Jawab gue singkat, sambil angkat jempol. Dua jempol. Jempol kaki malah. Entah kenapa, perasaan gue jadi agak berbunga-bunga semenjak Putri memasukan kartu ATM miliknya ke dalam saku gue, loh kok?! Absurd banget. Maksud gue, saat kartu debit sebuah bank nasional milik Putri dimasukan ke dalam sebuah mesin berbagi uang otomatis yang...

Mahasiswa Absurd (Chapter 5)

Jam tiga sore, gue meluncur ke kampus tetangga, nyamperin Putri yang baru aja beres kuliah. Lewat pesan burung merpati gue coba hubungin Putri. Gue ajak dia ketemuan di taman dekat kampusnya. Soalnya kalau ketemu di kampus, takut ada Indah. Kalo Indah tau, semua aktivitas gue dan Putri bisa diketahui sama Rendi dan temen-temen kontrakan gue yang lain. Gue pun mengayunkan sepatu vans berisi kaki gue ke arah taman. Sesampainya di taman, duduk dua-duaan. Makan roti buaya, dengar lagu cinta. Eh, itu mah lirik lagunya Naif. Pas gue hampir nyampe ke taman, gue udah ngeliat Putri dari kejauhan. Saking jauhnya, gue enggak bisa bedain yang mana Putri, yang mana ibu kost, yang mana rektor kampus gue. Gue coba perjelas lagi penglihatan gue dengan cara melangkah mendekati taman. Sebuah taman yang asri. Lokasi ini sengaja gue pilih, karena udaranya adem dan suasananya yang tenang. Warga kota Bandung memang banyak memilih taman untuk jadi lokasi ngumpul-ngumpul. Untungnya, di Bandung memang...

My Opinion About The Book: "Watir"

Image
Judul: Watir Penulis: @infowatir Penerbit: RakBuku Tahun terbit: 2014, Agustus (Cetakan kelima) Nilai (antara 1 sampai 9): 8,5 Cover: Sumpah, watir pisan euy. Gue nemu buku ini di rak buku seorang teman. Entah apa motivasi temen gue ini beli buku yang sia-sia seperti ini. Itulah pikiran gue sebelumnya. Akhirnya coba gue baca. @infowatir adalah salah satu akun anonim di twitter yang udah berjaya dari semenjak dahulu Steve Jobs mendirikan Apple. Beneran bikin gue ketawa ngakak enggak abis-abisnya. Enggak tau siapa yang mencetuskan buat nulis ini buku. Yang jelas, menulis cerita lucu untuk memberikan hiburan bagi banyak orang adalah ladang pahala. Setidaknya gitu kata guru agama gue waktu sekolah dulu. Tapi gue juga lupa-lupa inget sih omongan guru gue, enggak tau bener apa salah. Hehe. Halaman ke halaman gue baca tanpa berhenti ketawa. Sempet khawatir juga, kalau entar pas beres baca gue dianggap gila. Tapi untungnya enggak. Buktinya sekarang gue bisa nulis disini. Te...

Mahasiswa Absurd (Chapter 4)

Semakin malam, keadaan rumah kontrakan gue semakin ramai. Kita berlima mengisi waktu dengan duduk bersama di teras rumah. Ruang terbuka yang ada di hadapan rumah kontrakan menjadi lokasi favorit buat ngabisin waktu malam. Biasanya sih kita isi waktu luang tersebut dengan ngobrol sambil nyanyi bareng. Diiringi permainan gitar akustik Rendi tentunya. Cuma Idan yang kita larang keras untuk menyumbangkan suara di momen tersebut. Hal tersebut memang terkesan tidak demokratis, tapi itu semua adalah bentuk preventif untuk menghindar dari teguran tetangga yang nantinya mungkin akan terganggu oleh merdunya suara Idan. Merdu, menurut Idan sendiri, tapi tidak bagi orang lain yang hidup di muka bumi. Oh iya, sebelum gue lanjutin ceritanya, gue mesti gambarin dulu gimana bentuk rumah kontrakan yang gue isi bersama dengan empat orang sahabat gue ini. Rumah ini berukuran kira-kira sebesar 50 meter persegi, dengan luas lahan sedikit lebih besar dari bangunan. Kelebihan lahan tersebut menjadi hala...

Mahasiswa Absurd (Chapter 3)

Chapter 1 Chapter 2 “Maaf yah, udah ngerepotin.” Ucap Putri tiba-tiba. “Enggak apa-apa kok.” Jawab gue dengan gaya sok cool sambil liat dompet. “Kamu pulangnya kemana? Biar Kiki anter yah?” Tanya gue penuh perhatian. “Deket kok, Putri ngekos di deket kampus sini...” jawabnya lembut. “Kamu ngekos? Emang rumah kamu dimana?” Tanya gue penasaran. “Rumah Putri di Bogor. Dari awal kuliah udah ngekos.” Jelasnya. “Ya udah, kalo gitu Kiki anter pulang yah? Takut kamu kenapa-kenapa di jalan.” Bujuk gue. “Enggak bakalan kenapa-kenapa juga kali. Udah biasa kok pulang sendiri.” Jawab Putri. Hening. Cuma ada gue yang maenin sedotan bekas minum tehbotol tadi, sementara Putri sibuk maenin handphonenya. Kasian itu handphone, dibeli Cuma buat dimaenin doang. Apa enggak pada mikirin gimana perasaan itu handphone?! Ini kalimat apa sih, kenapa gue mikir kayak gini? Absurd banget. Buat yang lagi nulis cerita ini, tolong inget pesen gue: jangan bikin karakter gue seaneh ini. Gue p...