Posts

Showing posts with the label perasaan

My Opinion About The Book: "Surat yang Berbicara Tentang Masa Lalu"

Image
Judul: Surat y ang Berbicara Tentang Masa Lalu Penulis: Ade Ubaidil Penerbit: Penerbit Basabasi Tahun terbit: 2017, Oktober Nilai (antara 1 sampai 9): 7,9 Cover: Terima kasih telah tidak setia kepada blog yang tak seberapa ini. Kali ini, dengan penuh semangat kebaharuan (yang gue enggak ngerti bener apa maksudnya), gue bakalan coba mereview sebuah buku kumpulan cerita pendek hasil karya salah satu penulis muda berbakat dari daerah gue sendiri bernama: Ade Ubaidil. Salah seorang kawan yang gue kenal, yang memilih jalan menjadi seorang penulis fiksi sejak beberapa tahun lalu. Gue banyak belajar dari dia, terutama lewat karya-karyanya. Merayakan kelulusannya jadi sarjana, sekaligus dalam rangka ulang tahunnya, blio memberikan salah satu buku kumcer karyanya yang berjudul “Surat yang Berbicara Tentang Masa Lalu”. Mari kita bahas salah satu buku cerpennya ini. Berisi 18,5 cerpen, buku ini diawali dengan cerpen berjudul “Sepasang Sandal di Pintu Neraka”, satu cerpen y...

Olah Rasa

Entah apa yang sedang ku rasakan saat ini. Seakan semua tergesa-gesa mengejar entah apa yang dikejar. Semua terasa terburu-buru.  Napsu atau mungkin memang sudah seharusnya di umurku ini semua hal yang sedang ku kejar ini wajib dikejar. Ritual golongan pemuda paruh baya sepertiku ini mungkin memang seperti itu. Mengejar apa yang dikatakan akan memberikan kebahagiaan. Sementara orang dan sebuah buku yang aku baca berkata, hidup memberi manfaat lebih baik daripada hidup mengejar dimanfaatkan. Semua yang pernah tertanam di kepala seperti berlalu begitu saja. Satu hal yang memang sekarang sedang coba kujalani dengan serius adalah olah rasa dan olah raga . Olah rasa, mungkin sebuah kata ganjil yang tiba-tiba masuk ke dalam pikiranku saat ini. Sebuah pemikiran tentang diri dan orang lain yang saat ini menghampiri. Seseorang yang entah memang kutunggu atau memang dia hinggap begitu saja karena ditentukan waktu. Istilah yang terpikirkan saat ini, o...

S E P I

Banyak waktu aku lewati, meski penuh makna, masih saja kurasakan heningnya hari. Bahagia, Sedih, Susah, Marah, Banyak yang ingin kubagi denganmu. Kau tak pernah ada disini. Mungkin belum waktunya, Atau mungkin waktunya sudah lewat begitu saja. Salahku sendiri, Awal mulanya meniti semua hanya untuk kepuasan pribadi. Melupakan kewajiban berbagi. Saat ini, sudah terlanjur umur. Tak mesti lagi ku ungkap kisah yang lalu. Meski sepi, tetap saja penuh makna. Makna yang mengantarkan aku menuju padamu. Mengganti waktu yang usang, melihat hidup lewat sudut pandang baru. Denganmu, nanti. Suatu hari. *di tengah bulan sepuluh*

Seperti Ini Seperti Itu

Seperti ini... Seperti itu... Sungguh, kau harusnya tahu betapa ku sering menahan semua rasa rinduku hanya untuk membuatmu nyaman. Aku tak ingin dianggap sebagai pengganggu, terutama olehmu. Aku ingin kau betah hidup di dunia tanpa terganggu. Sebenarnya, di tiap pertemuan kita, aku berkata dalam hati: "Bebanmu, biar aku yang tanggung!" Tapi jika ku ungkapkan maksudku, kurebut semua beban darimu, itu sama artinya aku membiarkanmu menjadi manusia yang tidak seutuhnya manusia. Andai kau perhatikan di setiap pertemuan kita, aku lebih sering diam, tersenyum, habiskan waktu untuk menatapmu. Saat itu fokusku terbagi dua antara memandangmu, dan berkonsentrasi untuk terus berdo'a dalam hati. Do'aku yang ingin menahan kehendak Tuhan tuk terus memutar waktu. Aku berdo'a, ingin waktu berhenti disini, saat denganmu. Cukup sampai disini, bersamamu. Tapi ternyata itu sulit, Tuhan tak pernah dan tak mungkin kabulkan do'a yang s...

Random Write-Thing

*OST: Tulus - Jangan Cintai Aku Apa Adanya* Sepertinya siang ini menulis random thing just like this bisa aja seru. Setelah sebelumnya menulis beberapa review, dan menggugah sebuah cerita komedi ala mahasiswa untuk sedikit mengenang masa lalu, kini gue coba nulis semaunya aja gitu. Sekelebat pemikiran yang ujug-ujug muncul coba gue tulisin langsung disini, tanpa disaring dan dimaknai terlebih dahulu. Seakan dunia sedang berputar melambat, gue juga ngerasa akhir-akhir ini perjalanan hidup semakin lambat. Kehilangan momentum untuk bergerak cepat. Entah apa yang terjadi. Semenjak hariku disentuh oleh sesosok wujud kaum hawa yang sebetulnya telah gue kenal sejak lama. Namun, sedikit rasa hadir dalam benak gue kini, menari-nari, menggambarkan sebuah harapan di masa depan. Tetapi, jengkal demi jengkal sosok tersebut sepertinya menyadari kekagumanku padanya. Membuatnya menjauh, membuatku tak semangat. Seperti kisah mentari dan rembulan yang sulit untuk saling bertemu, dan ketika ...

GELISAH

Pernahkah kalian merasa hidup ini salah langkah? Merasa melaju ke arah yang tidak seharusnya? Apa yang kalian lakukan di saat-saat seperti itu? Bertanya? Berdo’a? Tetap melangkah meski hati menyatakan penolakan, dengan alasan penasaran dengan hasil yang akan diraih. Berusaha tak peduli dengan apa yang terjadi, dan yakin bahwa di jalan yang salah pun akan ada teguran dari Tuhan, hingga akhirnya jalan pun akan berubah menjadi lurus dengan sendirinya. Berburuk sangka apa berbaik sangka? Mana yang menjadi tabiat kita ketika berhadapan dengan salah langkah ini? Apakah kita peka dan yakin merasa bahwa langkah yang diambil ini benar-benar salah? Atau ketidak-pekaan membawa kita melaju menuju jurang kesalahan langkah tersebut? Hanya ALLAH yang tahu. Namun, perkataan di atas menghantui pikiranku saat ini. Aku gelisah. Ku dirundung kegelisahan. Semoga Allah SWT selalu membimbingku ke arah yang lurus, ke jalan kebenaran. Jalan-Nya....

Tiga Kata Satu Tanda Tanya

Image
“Kamu lagi apa?” Hanya sepenggal kalimat itu yang tertulis dalam pesan blackberry yang ku kirim untukmu. Kalimat yang menunjukan perhatian dan rasa penasaran tentang apa yang sedang diperbuatmu saat ini. Cukup tiga kata: kamu, lagi, dan apa. Diakhiri dengan tanda tanya yang menunjukan bahwa aku ingin sekali mengetahui keberadaanmu setiap waktu. Namun, kata-kata yang terus aku ulangi setiap hari tersebut nampaknya menimbulkan kejenuhan tersendiri bagimu yang kukagumi. Ah, andai saja kau tahu kebingunganku. Andai kau tahu rasa gugup yang hadir saat ingin meneruskan percakapan denganmu, tetapi dihalangi keterbatasan kata. Entah hilang kemana segala kata yang pernah kupelajari di bangku sekolah dulu. Ingin rasanya diri ini membuka kamus besar Bahasa Indonesia dan mencari kalimat indah disana untuk ku ungkap padamu. Seandainya Chairil Anwar, W.S Rendra, Taufik Ismail atau siapapun yang mampu merangkai kalimat puitis, berada di sampingku dan berikan a...