My Opinion About The Book: "Kepada Apakah"
Judul: Kepada Apakah
Penulis: Afrizal Malna
Penerbit: Motion Publishing
Tahun terbit: 2014, Maret
Nilai (antara 1 sampai 9): 8
Cover:
Afrizal Malna
adalah seorang penulis karya sastra puisi. Itu yang gue tau tentang penulis
novel “Kepada Apakah” ini. Ketika gue tau dia merilis sebuah novel lewat akun
twitter @katabergerak, gue langsung penasaran bagaimana isi novelnya. Dengan
bantuan seorang junior di Universitas tempat gue dulu pernah kuliah, akhirnya gue bisa
dapetin novel ini. Sulitnya mendapatkan novel ini layak disejajarkan dengan
sulitnya mencari buku langka tulisan Milan Kundera. Atau emang gue aja kali yah
yang enggak tau mesti kemana buat nyari buku itu, karena kurang gaul. Hehehe.
Pertama membaca
“Kepada Apakah”, gue langsung disuguhi kegelisahan ala filsuf yang menjadi ciri
Pak De Afrizal. Sedikit memutar otak untuk mengerti alur cerita yang memang
mudah melompat dari satu latar ke latar lainnya. Cerita kompleks yang demikian
melelahkan. Awal mula yang mungkin bagi segelintir orang melahirkan kata
menyerah dalam membaca novel ini. Gue hampir nyerah, sebelum akhirnya gue skip
novel ini beberapa lama, dengan diselingi membaca beberapa buku lainnya.
Beberapa loh, enggak satu buku aja!
Pernah gue mention
akun twitter @katabergerak, guna menceritakan keluh kesah yang gue alamin itu.
Kicauan yang dibalas dengan nasehat ringan: “jangan dibawa serius, mungkin kamu
kurang santai membacanya...” Begitu kira-kira sekelumit saran dari admin akun yang
masih gue inget. Akhirnya, gue ikutin saran sang admin, dan jreng! Novel ini
menjadi mudah dicerna dengan pikiran yang lebih santai. Njelimetnya alur novel
terasa sah-sah saja, namanya juga cerita fiksi. Fokus saja pada perjalanan
tokoh utama novel tersebut, nanti juga ketemu maknanya.
Yup, inti dari novel ini adalah sebuah perjalanan. Perjalanan tokoh utama bernama Ram yang sebagai seorang seniman, berangsur-angsur menjadi semakin tua secara umur, semakin dewasa secara pemikiran, tetapi semakin gelisah dalam kesepian. Dalam kesepian? Iya, kesepian ditinggal waktu. Waktu muda yang telah lewat, dan masa tua yang menurutnya terkesan ‘enggak gue banget’, yang terus mendekat. Bagaimana rasanya hidup dalam sepi, sementara kreatifitas pemikiran semakin tumpul dimakan usia, yang akhirnya membuat Ram mencari-cari kebahagiaan dalam memori yang tercecer tak beraturan, dengan cara menapak-tilasi perjalanan yang pernah ia jalani sebelumnya.
Kisah kasihnya dengan Wulung yang rumit, turut mewarnai perjalanan ini. Sebuah misteri cinta yang menurut gue sangat khas seniman sekali. Pokoknya kalau gue bilang sih, begini nih kalau seorang seniman jatuh cinta, serada ribet gimana gitu. Hehehe. Novel yang sangat meriah dengan perasaan. Mungkin ini pengalaman pribadi sang penulis, entahlah. Yang jelas novel ini menarik dalam memberikan gambaran bagaimana konflik batin seorang seniman yang sesungguhnya. Baca aja sendiri :P
Saran buat pembaca pemula, hati-hati dengan kalimat yang terkadang membingungkan. Mohon untuk membaca berulang-ulang agar bisa mengerti makna cerita. Lebay enggak sih saran gue?

Comments
Post a Comment