Belajar Dari Pohon

Manusia diberi kelebihan daripada makhluk hidup lainnya, yaitu akal. Semua orang mungkin sudah mengetahui hal ini. Tapi tidak semua bisa memaksimalkan anugerah akal yang sudah diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Lucunya, di dunia yang bergerak dan terus berkembang semakin maju ini, manusia semakin memuja akal dibandingkan sang pencipta akal itu sendiri, yaitu Tuhan. Tuhan yang gue maksud, dan gue percaya sebagai muslim, adalah Allah.

Salah satu hal yang sekarang semakin gue sadari adalah tentang akal itu tadi. Akal, jika digunakan dengan benar akan mengantarkan kita menuju manusia yang lebih baik lagi, dan menghargai sang Maha Pencipta. Pernyataan yang pasti mengundang perdebatan. Tapi, berdasarkan pengalaman gue sendiri, semakin gue berpikir, semakin enggak bisa tuh gue ngilangin intervensi Allah dari hidup yang gue jalani. Semua yang terjadi merupakan kuasa Allah, dan manusia, kita, sebagai makhluk ciptaan, hanya bisa bersyukur dan beriman kepada-Nya. Itu jika kita mau berterimakasih.

Selain manusia, Allah pula menciptakan dunia dan seluruh isinya. Salah satu makhluk hidup yang juga diciptakan-Nya adalah tumbuh-tumbuhan. Nah, gue pernah merenung nih mas bro, ketika duduk di sebuah taman, menikmati segarnya hembusan angin sepoi. Pelan menyentuh raga ini dan akhirnya beranjak lagi, melanjutkan perjalanannya untuk menyejukan jiwa lainnya. Subhanallah. Gue pandangin tuh pohon-pohon yang ada. Semua pohon seolah hidup dan menikmati sejuknya angin, seperti yang gue rasain. Emang pohon itu makhluk hidup sih, di pelajaran biologi juga udah dijelasin. Kemudian munculah kesimpulan dari hasil dialektika antara mata, mulut, otak, dan hati gue.

Kenapa Allah menciptakan sebuah pohon yang manis buahnya, seperti Durian, Duku, Kelapa, dan sebagainya dengan fisik yang umumnya tinggi, sehingga sulit untuk dipanjat?!

Manusia  seharusnya bisa mengambil pelajaran darinya, jika ingin buah manis, ya mesti manjat pohon dulu. Manjat pohon pun bukan perkara mudah. Orang yang enggak bisa manjat terus maksain manjat, bakalan berakhir dengan tubuh penuh luka. Beneran, cobain deh sendiri. Hehe. Begitu pula soal rejeki. Rejeki yang manis, pasti akan lebih sulit untuk didapat. Seperti pohon, rejeki yang manis akan bisa diraih, jika kita kuasai ilmu buat manjatnya. Sebuah pelajaran yang diajarkan Allah secara langsung melalui makhluk ciptaan-Nya selain kita.

Ada pula pohon-pohon yang agak rendah tingginya. Mangga, Jeruk, Apel, itu contohnya. Buahnya lebat dan dimana-mana ada pohonnya. Bila buah-buahan tersebut didiamkan di atas pohon, akan semakin matang dan semakin manis pula rasanya. Disini kita lagi-lagi diajarkan ilmu tentang sabar. Kesabaran menunggu buahnya matang, akan berbuah kemanisan. Sama seperti rejeki, ketika kita sudah berikhtiar, sabar adalah hal yang kemudian harus kita tanamkan terhadap diri. Sehingga nanti akan datang buah manis dari sabar.

Ada lagi yang dapat kita pelajari dari pohon Jeruk, Apel, dan Mangga ini. Biasanya, dalam satu pohon, akan lebat buahnya. Jika kita sendiri yang memakan buahnya dengan rakus, bisa membuat pencernaan terganggu. Maka dari itu, buah yang mudah diraih ini seolah-olah didistribusikan untuk banyak orang. Bisa diambil siapa saja. Mengajarkan kita agar tidak serakah. Rejeki yang mudah diraih adalah hak banyak orang. Memungkinkan bagi siapa saja agar bisa meraihnya.

Bagaimana dengan buah yang ada dalam Al-Qur'an, Anggur dan Kurma?! Seperti Apel tadi, kita diajarkan untuk bersabar. Anggur dan Kurma mentah itu enggak enak dimakan. Sabar adalah sebuah keyakinan untuk mendapatkan yang terbaik. Sebuah bentuk iman kepada Allah. Yakin bahwa Allah akan memberikan hasil akhir yang baik diakhir penantian sabar kita. 

Begitu juga dengan cabe atau cabai?! Cabe juga buah kan? Kecil dan pedas. Memberikan filosofi kalau rejeki yang mudah didapat itu, meski berwujud kecil, tetapi berefek pedas. Bahkan, rasa pedas tersebut bisa bertahan di mulut, meski buahnya sudah tertelan. Jika dibuat sambel, efeknya bisa ningkatin nafsu makan. Begitupun rejeki yang kecil, jika dimanfaatkan dengan baik, tentu berefek baik pula. Misalnya kita sedekahkan. Tapi analogi ini bisa saja diartikan "udah mah kecil, diomongin sama orang pula!" Hehe, itumah kitanya aja yang su'udzon. Jangan mikir gitu dah.

Oh iya, ada pula pelajaran dari Salak. Meskipun mudah didapat, kulit Salak yang tajam bisa melukai. Terkadang rasanya malah tidak enak. Silahkan disimpulkan sendiri, pelajaran apa yang bisa kita dapatkan dari Salak? Mari berdiskusi.

Comments

Popular posts from this blog

My Opinion About The Book: "Mata Malam"

My Opinion About The Book: "The Blackside: Konspirasi Dua Sisi"

My Opinion About The Book: "Pendidikan Kaum Tertindas"