My Opinion About The Book: "Orang Jujur Tidak Sekolah"
Judul: Orang Jujur Tidak Sekolah
Penulis: Andri Rizki Putra
Penerbit: Bentang (PT Bentang Pustaka)
Tahun terbit: 2015, Maret (Cetakan kedua)
Nilai (antara 1 sampai 9): 8,3
Cover:
Jadi ceritanya gue
lagi baca-baca status orang nih di fesbuk, terus ada seorang penjual buku onlen
yang nawarin buku ini. Kebetulan, gue sendiri emang tau akan kisah penulis buku
‘Orang Jujur Tidak Sekolah’ ini. Kisah yang gue dapet dari salah satu cuitan di
twitter, yang mengatakan kalo si penulis buku ini, kisah hidupnya menarik dan
menginspirasi. Tanpa berpikir lama, gue langsung order ini buku sebelum stoknya
abis. Soalnya, udah berkali-kali gue ke toko buku di daerah tempat tinggal gue
(Serang – Pandeglang) buku ini enggak pernah ada. Mungkin dulu pernah ada saat
gue belum tau kisah kehidupan Andri Rizki Putra dari temen gue. Jadinya gue
enggak ngeh akan kehadiran buku ini di toko buku terdekat waktu itu. Mungkin.
Okey, langsung aja.
Buku ini berkisah tentang idealisme dan pemahaman Andri Rizki Putra, yang
dipanggil Kiki, tentang perjalanan hidupnya sejak kecil. Kiki dilahirkan dari
keluarga broken home, dimana ayahnya tak pernah ia ketahui sosoknya seperti
apa, bahkan hingga buku ini dirilis. Ia hidup di dalam keluarga yang serba
kekurangan. Kesulitan ekonomi yang akhirnya memaksa Kiki kecil berpisah dengan
ibunya, yang sebagai single parent, harus berjuang mencari nafkah ke ibu kota.
Kiki sendiri tinggal bersama nenek kakeknya di Medan. Sebagai sosok anak kecil
yang mungkin kurang perhatian dan kasih sayang orang tua, maka Kiki tumbuh
menjadi bocah yang atraktif, demi mendapat perhatian dari sekelilingnya. Sisi
psikologis Kiki mengarahkan dia menjadi anak yang tak memiliki rasa takut, juga
penasaran akan segala macam hal. Keadaan ini membuat nenek kakeknya yang mulai
renta, menjadi kewalahan dengan tingkah Kiki. Apalagi semakin lama Kiki pun
merindukan ibunya. Saat memasuki usia sekolah Kiki diboyong ibunya untuk pindah
ke pinggiran Jakarta.
Berdua bersama ibu
kandungnya, membuat Kiki merasakan pahitnya hidup serba kekurangan. Hal yang
awalnya menimbulkan kekecewaan besar pada Kiki, yang tak terima dengan kondisi
ekonomi keluarganya. Kekecewaan ini membuat kenakalan Kiki menjadi-jadi.
Sekolah dasar tempat Kiki bersekolah mulai merasa kewalahan. Hingga pada suatu
titik, ia berhasil menerima kondisi sulit ini, bahkan bertekad memperbaikinya.
Dari sini mulailah ia menjadi seorang murid sekolah yang pintar. Kiki berniat
menjadi siswa yang baik-baik. Akan tetapi, telat bayar SPP, tak pernah membeli
buku paket, dan keterlambatan iuran lainnya, membuat Kiki kecewa akan perlakuan
sekolah padanya. Ia sempat malu dan malas bersekolah karena hal itu. Sosok sang
ibu menjadi penguat tekad Kiki untuk mau kembali bersekolah.
Kepintaran Kiki
berlanjut. Masa SMP menjadi masa bahagia Kiki dalam menjalani pendidikan
sekolahnya. Meski kesulitan ekonomi tetap menghantui, rekomendasi beasiswa
menjadi solusi bagi perjalanan sekolah menengahnya. Pihak guru-guru sekolah
mengakui kepintaran Kiki. Ia dipercaya untuk mewakili sekolah untuk mengikuti
berbagai lomba mata pelajaran tingkat regional. Semua berjalan lancar, hingga
kembali sekolah mengecewakannya. Nilai moral yang tertanam dalam diri Kiki
diuji, ketika dalam Ujian Nasional tingkat SMP beredar kunci jawaban di
kalangan para peserta ujian. Kunci jawaban yang ternyata berasal dari salah
satu guru sekolahnya, demi mengejar prestasi kelulusan 100% yang ditargetkan
sekolah. Semua itu demi nama baik sekolah unggulan yang telah lama disandang
oleh SMP tersebut. Kiki merasa kerja kerasnya belajar sungguh-sungguh untuk
menghadapi ujian, berujung pengkhianatan yang dilakukan oleh gurunya sendiri.
Bahkan ketika Kiki coba melaporkan peristiwa itu, pihak yang menerima
laporannya bersikap dingin.
Kejadian ini
membuat Kiki semakin kecewa dengan sistem pendidikan formal yang ada. Ia lalu
mengambil langkah ekstrim, tak mau melanjutkan sekolah. Ia merasa uang yang
didapat ibunya dengan cara pontang-panting kesana kemari habis sia-sia, karena
ternyata sekolah yang berbiaya mahal itu, tak mampu menjadikan Kiki manusia yang
lebih baik. Ia merasa, jika kecurangan sudah diajarkan dengan sistematis dalam
sebuah lembaga formal, dimana lagi lokasi yang tepat untuknya menerima
pendidikan yang jujur, adil, dan benar? Keputusan ini yang membuat masa depan
Kiki justru gemilang. Kisah yang menarik untuk dibaca. Menurut gue, buku ini
cukup mewakili perasaan gue pribadi. Semua pengalaman Kiki di sekolah, juga
pernah gue alamin. Hanya cara mengatasi hal tersebut mungkin yang membedakan
gue dan Andri Rizki Putra ini. Buku ini juga menggambarkan kepada kita, bahwa
ada alternatif lain untuk menyelesaikan pendidikan dasar 12 tahun, disamping
melalui pendidikan formal yang telah ada sekarang ini. Sangat layak kalian
membaca karya ini di kala senggang.

Comments
Post a Comment