My Opinion About The Book: "Soeharto Murid (Penerus Ajaran Politik) Soekarno"

Judul: Soeharto Murid (Penerus Ajaran Politik) Soekarno
Penulis: Roy B. B. Janis
Penerbit: Optimist Plus
Tahun terbit: 2012, September
Nilai (antara 1 sampai 9): 8
Cover:

Kembali lagi kita bertemu di blog kesayangan gue. Kali ini gue bakalan bahas sebuah buku bertema sejarah politik yang lagi-lagi gue pinjem dari seorang temen. Krisis ekonomi yang melanda diri pribadi membuat gue enggak bisa jajan buku sebanyak dulu, dan buku-buku gue dulu pun seolah bersepakat ninggalin gue, rela pergi dari rumah bersama tangan-tangan kawan yang jahil, hingga entah kapan dia bisa balik lagi ke rumah. Ada yang hilang, ada yang nyasar, mereka tersesat dan tak tahu arah pulang. Sementara gue tanpa mereka bagai butiran berlian – apaan sih. Hehehe. Buku berjudul “Soeharto Murid (Penerus Ajaran Politik) Soekarno” ini ditulis oleh bapak Roy B. B. Janis. Seorang mantan politisi PDI-P di era gue sekolah dulu. Sekarang sih entah kesibukan apa yang beliau jalani semenjak keluar dari partai berlambang banteng moncong putih itu, gue enggak begitu ngikutin. Kenapa gue coba bahas buku ini, karena menurut gue, sejarah harus dipelajari sehingga bangsa ini enggak jatuh ke lobang yang sama.

Baiklah, gue akan memulainya dari sedikit gambaran isi buku ini. Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto, adalah dua presiden yang memimpin bangsa ini dengan caranya masing-masing. Soekarno dikenal sebagai Bapak Proklamator, berperan serta memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dari penjajahan. Sementara suksesornya Soeharto, dikenal sebagai Bapak Pembangunan, dimana pada masa beliau menjabat, ekonomi negeri ini dianggap mengalami peningkatan yang cukup pesat. Akan tetapi, dalam fase kepemimpinan kedua presiden itu, terdapat masa dimana keduanya tergoda untuk melanggengkan kekuasaaannya selama waktu memungkinkan. Soekarno menjadikan dirinya presiden seumur hidup, lantas coba menggabungkan cita-cita menggabungkan nasionalis – agama – komunis yang benar-benar memiliki idealisme yang kontradiktif satu sama lain, serta memperuncing konflik antara PKI dan militer kala itu. Sementara Soeharto menggunakan militer yang represif, dan menyalahgunakan kewenangannya sebagai presiden guna memperkaya keluarga dan kroninya. Meski dalam pola yang berbeda, kedua presiden ini seolah sepaham: berupaya menjalankan strategi untuk mempertahankan kekuasaannya. Di titik itulah Pak Roy menganggap apa yang dilakukan Soeharto seakan mengikuti jejak pendahulunya. Soeharto seperti mempelajari apa kesalahan Soekarno di masa lalu, kemudian menyempurnakannya demi kepentingan kekuasaannya sendiri. Intinya, enggak ada yang baru di era Soeharto, semua strateginya pernah dijalankan Soekarno pada masanya, meski enggak sempurna. Hingga pada akhirnya, keduanya sama-sama lengser karena desakan massa.

Sebetulnya hal utama yang gue tangkap di buku ini, semata-mata kronologis sejarah yang lumayan paripurna. Terlepas kesimpulan bahwa Soeharto itu murid dari Soekarno atau bukan, yang jelas Pak Roy menggambarkan situasi berdasarkan pengamatannya sebagai saksi sejarah, meski mungkin di era Soekarno beberapa data didapat dari sumber lain yang (semoga saja) terpercaya. Dari alur hidup dan peristiwa yang menaungi kedua mantan Presiden RI itu, tergambar kondisi hati dan pikiran bangsa di masa itu. Terutama di masa transisi orde lama menuju orde baru di era pertengahan tahun 60’an, dan terulang di era reformasi. Semua hal yang terjadi, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kekuasaan hari ini. Lucunya, gue menangkap sesuatu yang serupa pada suasana politik di masa pasca pemilu 1955, di tahun 2017 saat ini. Hal ini entah harus gue sikapi dengan bahagia atau khawatir. Seakan roda sejarah negara ini berputar di tempat, enggak ada kemajuan. Suasana yang berulang, dimana kepentingan golongan (dalam hal ini kepentingan partai) lebih diutamakan dibandingkan kepentingan bangsa secara keseluruhan. Hal yang membuat segala peraturan yang terbentuk harus selalu melalui lobi-lobi panjang tak berujung antara lembaga legislatif dan eksekutif. Energi yang terpakai dalam perdebatan dan lobi-lobi inilah yang membuat langkah Indonesia sebagai bangsa begitu pelan mengejar laju kemajuan global. Saling sikut antar golongan yang membuka peluang untuk berujung pada tindak kekerasan. Entah sampai kapan hal ini akan terus berlangsung. Jangan sampai terjadi kembali tragedi yang merengut banyak anak bangsa seperti di era pasca 1965, atau kekerasan bertema SARA di saat terjadinya reformasi pasca 1998.

Gue sangat senang dengan tokoh-tokoh politik nasional yang bersedia meluangkan waktunya untuk menulis sebuah memoar, atau kesaksian, atau esai, bahkan novel sejarah, yang akhirnya memperkaya khasanah keilmuan generasi muda penerus bangsa. Dari mana lagi kita, sebagai generasi muda, mempelajari apa yang terjadi di masa lalu, selain dari para pelaku masa lalu itu sendiri. Buku ini layak dibaca bagi generasi muda yang tertarik dengan alur sejarah masa lalu Indonesia. Semoga bermanfaat, dan di tangan orang-orang yang tepat, semoga NKRI enggak jalan di tempat. Amin.

Comments

Popular posts from this blog

My Opinion About The Book: "Mata Malam"

My Opinion About The Book: "The Blackside: Konspirasi Dua Sisi"

My Opinion About The Book: "Pendidikan Kaum Tertindas"